Tampilkan postingan dengan label Cerpen Senja Kembara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Senja Kembara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2012

Sayap-Sayap Cahaya

     Pagi ini terasa beku, embun di muka daun pun belum kering. Samar-samar suara langkah berdetak  menyeret di sepanjang lorong sekolah.
     Krekkkk…suara derit pintu kelas memecah keheningan. Sesosok tubuh laki-laki , tinggi, rambutnya ikal masuk ke dalam kelas. Sejenak ia melihat ke setiap sudut ruangan. Lalu duduk di atas meja paling depan. Menatap papan tulis dan jam dinding yang bergelayut manja di atasnya. Diamatinya setiap gerak gerik jarum jam. Dalam pikirannya, mungkin sebentar lagi……ahh ia tak ingin memikirkan itu.
     Pak Tarjo, tukang kebun yang baru saja selesai menyapu di depan kelas pun merasa heran. Dipandanginya anak laki-laki itu yang sedari tadi hanya diam mematung di atas meja.
     “mas ….,mas cahyo..,kok jam segini sudah disini?? ”
     Ya, namanya Cahyo, siswa kelas XI di sekolah ini. Siswa yang selalu membuat para guru dan teman-temannya jengkel karena ia sering membuat ulah. Tapi meski banyak yang tak menyukainya, ia adalah sahabat terbaikku. Ada sisi lain pada dirinya yang tak dietahui oleh orang lain. Ahh andai mereka tahu tak kan seperti ini jadinya.
     “mas…, mas Cahyo….?”, kembali pak Tarjo menyapa.
     Cahyo hanya menoleh lalu memandang pak Tarjo yang berdiri di depan pintu dengan sapu, pengki dan tempat sampah kecil di tangannya.
     “gak papa kok pak” jawabnya kemudian
     “masih kepikiran yang kemarin ya mas?”, Tanya pak Tarjo seraya duduk di samping Cahyo. Sehingga tak hanya ada satu laki-laki yang duduk disana, tapi ada pak Tarjo seorang laki-laki tua berusia 50 tahun. Kulitnya hitam dan rambutnya lepek tak terawat. Cahyo pun masih diam, malah melihat ke atas lebih dan lebih.
     “udah mas, gak usah dipikirin”, lanjut pak Tarjo
     Cahyo menoleh ke arah pak Tarjo, diamatinya wajah yang sudah mulai keriput itu. Apakah dia tahu sesuatu tentangnya? Ahh semoga saja tidak.
     “mikirin apa?”, tanya cahyo
     “ mas, saya tau, kadang orang hanya melihat yang jelek-jelek saja, padahal menurut saya mas ini orangnya baik. Mas sering bantuin saya angkat barang ke gudang, bakar sampah di belakang sekolah, meski mas jadi dimarahi karena asapnya masuk ke kelas. Tapi saya yakin mas akan tetep jadi orang hebat tanpa sekolah ini”.
     Cahyo terkesiap mendengar kalimat terakhir dari pak Tarjo. Astaga….ia baru sadar bahwa ia bukan lagi murid di sekolah ini.kemarin ia telah dikeluarkan dari sekolah dengan sederet pelanggaran yang dituduhkan atas dirinya. Selalu terlambat! Tidur di kelas!bikin ribut!tidak mengerjakan PR! Membakar sampah disamping kelas! Membolos! Mempermalukan guru di depan umum! Dan sederet tuduhan lain untuknya. Meski tak semua yang dilakukannya atas kesengajaan ataupun niat yang tidak baik. Ia memang pernah memprotes seorang guru di depan kelas. Bu, pipinya merah banget habis panen tomat ya?  Itu yang dikatakannya waktu itu. Ia hanya ingin gurunya tak lebih malu lagi jika lebih banyak yang melihat betapa merahnya pipi sang guru. Tapi ternyata bagi sekolah itu merupakan pelanggaran besar.
     Yah, memang begitu adanya. Tapi yang sedang menjalari pikirannya bukanlah itu. Ada hal lain yang sedang berkecamuk dalam pikirannya.
     Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.20 segera ia keluar dari kelas sebelum siswa yang lain datang dan meliatnya disana. Ia tak bisa membayangkan apa jadinya jika ada yang melihatnya, pasti ia akan jadi bahan tertawaan selama seharian.
     Sesampainya dirumah ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Kamarnya termasuk kecil dibandingkan kamar-kamar lain yang ada di rumah itu. Hanya ada satu jendela kecil yang menghadap ke timur. Lalu ia copot seragam sekolahnya dan ia lempar ke lantai.
     Anjing!! Kata itu selalu ia ucapkan saat ia sedang marah. Mengumpat keluarganya dan dirinya sendiri. Mengumpat hidupnya yang ia rasa tak ada gunanya.
     Berkali-kali ia batuk didalam kamarnya yang terkunci. Ditutupnya mulutnya dengan telapak tangan. Ia tak ingin suaranya terdengar oleh orang lain. Karena bagi mereka suara batuknya akan sangat mengganggu mereka.
    “kalau sakit jangan dirumah! Nambah penyakit!” itu yang dikatakan bapaknya. Masih sangat jelas dalam ingatannya, waktu itu batuknya sedang kambuh. Menggigil dan sangat menyiksa. Bapaknya malah marah-marah dan memakinya. Lalu ia masuk kamar. Ia masih terus batuk sampai akhirnya ia memuntahkan cairan merah kental dari mulutnya.  Ya, itu tak pernah ia lupakan. Itu yang membuatnya benci sakit, benci rumah, benci keluarganya dan dirinya sendiri.
     Bapakya adalah orang pintar di kampung ini. Orang-orang kampung biasa memanggilnya si mbah, sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa istri si mbah yang hobi shoping dan ngrumpi dengan tetangga. Kakaknya adalah seorang perawat di sebuah rumah sakir swasta ternama, tapi untuk merawat adiknya sendiri ia tak pernah sudi memberikan tangannya.
     Cahyo sering keluar malam-malam, menghilangkan suntuk dan menjauh dari rumah. Duduk di pinggir jalan berjam-jam memandangi kendaraan yang lalu lalang,para preman jalanan mabuk atau para PSK yang mulai mangkal. Nikmati saja sekarang, nanti kalian juga mampus! Umpatnya dalam hati.
     Pernah ia dikeroyok di jalanan. Seluruh tubuhnya babak belur. Tak ada yang menolongnya. Pagi-pagi ia terkapar di tengah jalan dan di antar pulang oleh seorang petani yang hendak ke sawah. Berhari-hari ia tak bisa bangun dari tempat tidur. Berbaring lemah di atas kasur. Tapi orang tuanya hanya sesekali masuk ke kamarnya sambil berkata masih sakit le? Tanpa menyentuhnya sedikitpun. Hanya itu, dan hanya ibunya.
     Begitu sucikah tangan mereka hingga tak sudi menyentuhku? Bahkan dalam keadaanku yang sepayah ini? Bukankah aku ada, aku masih hidup, bukan patung ataupun sampah?atau memang aku adalah sampah bagi mereka?, Pikirnya.
     Waktu itu ia menelponku malam-malam. Ia bilang ia telah putus asa. Lalu kubilang jangan lembek
Lalu ia pulang. Bapaknya sedang menerima tamu. Mungkin pasien, atau orang yang mencari peruntungan, atau minta cekelan atau minta jampi biar usahanya lancar. Kadang terpikir, lucu sekali mereka yang percaya dengan si mbah . kalau di rumah ada yang sakit saja bapak lari ke dokter. Belum lagi rejeki, rejeki sendiri saja seret. Kalo memang sakti, mbok ya pakai jampi-jampi saja buat cari duit.
     Setelah pekerjaan bapaknya selesai Cahyo lalu mendekat. Sedangkan bapaknya sibuk membereskan peralatan perdukunannya. Bunga melati, kemenyan dan parfum yang biasa dia oleskan pada piranti yang ia berikan pada santrinya. Begitu sebutan untuk orang-orang yang mengggunakan jasa bapak.
     “ pak, Cahyo mau ngomong” kata Cahyo mulai bicara
     “ ngomong opo?” jawab bapaknya masih sambil wira-wiri
     “ Cahyo sakit pak,,”         
     Mendengar itu bapaknya langsung berhenti. Matanya menatap tajam pada Cahyo. Sorot matanya penuh kemarahan. Lalu ia duduk tepat di kursi depan cahyo. Kedua tangannya mengepal bertumpu pada lutut.
     “ terus apa urusannya sama bapak! Kalau kamu mau tanya soal penyakit, tanya sama masmu!jangan ganggu bapak, bapak sibuk!!” lalu ia berdiri dan menuju sebuah ruang yang biasa dipakai untuk ritual. Acuh sekali dengan apa yang sedang dirasakan Cahyo.
     “tapi pak…” plakkkk!! Belum sempat ia melanjutkan perkataannya bapaknya mendaratkan sebuah pukulan tangan tepat di tulang pipi kirinya. Brakk!  Seketika itu Cahyo terjatuh, badannya terpelanting ke pintu di belakangnya.
     “kamu itu le! Kenapa sekarang nyebut sama bapak!dulu bapak bangga-banggain kamu!bapak turuti apa mau kamu! Tapi kamu malah bergaul dengan teman-temanmu yang brandalan itu! tiap hari kerjanya mabuk-mabukan! kalo sekarang kamu kena batunya begini, baru kamu inget sama bapakmu le!!”
     Ya, dulu memang Cahyo pernah terjerumus pada lubang hitam itu. Bertahun tahun yang lalu sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ia mangakui bahwa yang sekarang ia alami mungkin adalah hukuman bagi dirinya atas perbuatannya dulu. Tapi bukankah itu hanya masa lalu,, bagian dari sisi gelapnya yang seharusnya tak perlu lagi diungkit-ungkit ke permukaan.
     Sejak beberapa bulan yang lalu, semenjak ia menyadari bahwa penyakit itu telah kian menggerogoti parunya, ia telah menjauhi minuman terlaknat itu. Setiap ditanya oleh teman-temannya, ia selalu bilang lagi males  meskipun itu bukan alasan dan bukan jawaban yang diharapkan oleh temannya tapi cukup rasanya untuk menolak ajakan mereka. Meski kadang mereka tidak terima dan memukulinya. Yang ada dalam pikirannnya hanya satu. Ia tak mau terlihat sakit. Cukup aku dan keluarganya yang tau.
     Meski begitu ia bukanlah laki-laki yang sekuat baja. Ia kerap putus asa dan hampir-hampir memutus nadinya dengan pisau cutter. Tapi tak jadi. Lalu ia menyeberang jalan dan berhenti lama di tengah jalan sampai lampu menyala hijau. Tapi tak ada satu kendaraanpun yang menabraknya. Dan akhirnya ia tak jadi mati juga. Mungkin Tuhan tak menghendaki ia mati dengan cara seperti itu.
     Sampai suatu saat hal yang tak penah ia duga-duga terjadi. Sore itu ia merasa begitu jenuh. Ingin rasanya ia pergi keluar rumah, tapi saat itu dadanya terasa begitu sakit dan batuknya mulai menggigil. Lalu untuk kesekian kalinya ia memuntahkan cairan merah itu dan mengotori kamarnya. Dengan tergesa-gesa kemudian ia mengambil kain dan membersihkan lantainya. Sebelum ada yang datang dan melihat ada darah disana. Bau amis tecium di segala sudut kamar. Tapi biarlah orang tuaya takkan mengunjugi kamarnya hari ini.
Rumah neraka rumah jahanam yang harus ia tempati sebelum ia menempati neraka yang sebenarnya.
     Triit….triit…triit…tiga kali ponselnya berbunyi. Lantas ia bergegas mengambil kunci motornya lalu melaju ke suatu tempat. Ia tak lagi mempedulikan rasa sakit yang menderanya. Hingga beberapa kali motorya hampir jatuh tak terkendali. Entah apa yang terjadi dan siapa yang menelpon. Yang ku tahu dia berkata aku bukan pengecut .
     Ia berhenti di sebuah bangunan tua bekas sekolah dasar. Masih ada identitas sekolah disana.  Dan ada patung garuda besar yang masih berdiri mencengkeram pita di atas tulisan pahat. Entah tulisan apa itu ia tak memperhatikan lebih. Ia berjalan menuju bangunan tua itu, tiap langkahnya disambut mesra oleh sapuan ilalang liar dikakinya. Sejenak dipandangya setiap penjuru. Tak ada seorangpun disana.
     “ anjrit! Mana mereka!”, umpatnya sambil meludah.
     Hendak ia pergi, tapi ketika ia akan menstarter motornya…. Plokk! Plokk! Plokk! Suara tepukan tangan dari belakangnya.
     “temen kita udah dateng nih!” kata salah seorang dari mereka
     “hahahaha” yang lain tertawa. Lalu muncullah tiga orang dari dalam bangunan itu. Yang satu di depan, badannya tinggi besar, brewok, matanya besar dan badannya penuh dengan tato. Di tangannya ada gelang hitam dan memakai kalung rantai. Dua orang dibelakangnya, yang satu kekar, yang satu sedikit kurus. Mereka semua memakai celana yang robek di bagian lutut dan paha. Cahyo tau betul siapa mereka. Mereka Yudi, Gogon, dan Bery temannya dulu waktu ia masih sering mabuk-mabukan.
     “ apa mau kalian!” tanya Cahyo sambil mengepalkan tangannya. Mungkin marah, mungkin menahan rasa sakit di dadanya.
     “ santai aja sob, kita cuma mau ngajak loe seneng-seneng” sahut salah satu dari mereka sambil tertawa keras. Lalu mengajak Cahyo masuk.
     Entah apa yang terjadi kemudian, yang ia ingat ia dicekoki minuman terlaknat itu lagi. Banyak sekali. Sampai isi perut dan dadanya serasa terbakar dan….entahlah, ia tak ingat lagi
     Kini telah seminggu ia terbaring di rumah sakit. Tak jua ia membuka mata. Begitu rapat terpejam, tapi sesekali ada air yang menetes dari sudut matanya. Mungkin hatinya sedang bersedih, karena ia yakin, dalam keadaan sekaratpun orang tuanya tak kan peduli. Bapaknya tak mungkin sudi menjenguknya, ibunya tak kan ada waktu, sedangkan kakaknya mungkin telah lupa bahwa ia punya adik.
     Kuperhatikan layar monitor di samping ranjang. Garisnya masih naik turun, berliku-liku. Ahh jangan berhenti sampai disini Cahyo, lekaslah sadar. Ubah hidupmu yang tak enak jadi enak. Ayo Cahyo!
     Ia masih diam saja, agaknya yang lebih ia butuhkan adalah kata-kata dari bapaknya. Bapak yang begitu mengutuk keberadaannya. Hingga hidup satu rumah, berhadapan tapi seperti berada di dimensi lain.
    Berhari-hari sudah ia tergeletak di sana. Dengan segala perabot rumah sakit yang menempel di tubuhnya. Perlahan ia mulai menggerakkan jemarinya. Terasa ada sesuatu yang tersangkut di tangannya. Secarik kertas. Cepat sembuh ya le…bapak sayang kamu. Lalu ia tersenyum. Kubalas dengan senyum. Lalu ia kembali tersenyum dan terus tersenyum. Hingga akhirnya pudar perlahan. Lalu ia tertidur lagi pelan-pelan.    Ya, tidurlah, hatimu terlalu lelah.

Kamis, 24 November 2011

Tentang the end untuk Khanza


Malam  sebelum idul fitri,
Khanza terduduk lesu, berkali-kali mulutnya mendesah lelah. Matanya layu seperti bunga di vas yang selalu lupa ia ganti. Sesekali ia melirik penanda jam di sudut komputernya, waktu begitu cepat berjalan, pikirnya.
Tangannya menggapai gelas susu di sampingnya, seruputan terakhir. Malas untuk pergi ke dapur dan membuat minum atau makanan, padahal perutnya sudah bernyayi-nyayi. Atau paling tidak mengambil makanan kecil untuk menemaninya bergadang sampai pagi.
“belum selesai juga?”, kata mas Faiz tiba-tiba di depan pintu kamar Khanza. Ternyata khanza lupa menutup pintu.
“belum mas, ini juga mau diselesaikan”
“jangan terlalu ngoyo, istirahat dulu, besuk kan masih bisa dilanjutkan”
“nanggung mas, tinggal sedikit kok” kata Khanza sambil nyengir ke arah kakaknya.
“ya sudah, cepat selesaikan, sudah malam” kata mas Faiz sambil berlalu dari kamar Khanza.
Jemari Khanza kembali bergerilya di atas keyboard komputernya. Baris demi baris mulai memenuhi layar microsoft word dengan cepat. Mengalir begitu saja inspirasinya. Entahlah sepertinya ada nyawa lain yang membantunya. Mungkin almarhum W.S Rendra, atau Chairil Anwar (tapi kan mereka bukan cerpenis, hehehe).
Bagian ending,
Tiba-tiba tangannya terhenti. Ia membaca kembali tulisannya. Ia mulai ragu dengan apa yang ia tuliskan. Ia ragu untuk membuat akhir dari ceritanya.
“tidak seperti ini, ini terlalu khayal dan bohong”, ia berkata pada dirinya sendiri.
Tangannya menuju tombol delete pada keyboard. Tertahan. Tak jadi dihapus. Ia lantas menutup pekerjannya. Mematikan komputernya. Tidur dengan pikiran yang masih menggantung di otaknya. Tentang the end.
***
Khanza terbangun ketika mas Faiz membangunkannya untuk segera sholat subuh. Ia hanya mendesah, lalu kembali menarik selimutnya yang melorot sambil menguap.
“sudah mas kira, pasti jadi susah di bangunkan, lain kali jangan tidur terlalu larut” kata mas Faiz lembut sambil mengelus kepala adik tercintanya.
“nanti ayah marah lho, ayo bangun”
“memangnya nanti ayah pulang mas??” kata Khanza , langsung bangun, girang.
Mas Faiz tersenyum, “sudah cepat ambil air wudhu, atau sekalian mandi dulu, nanti sholat id kan?”
Khanza tersenyum riang. Merangkul bahu kakaknya. Begitu bahagia mengira bahwa ayahnya benar-benar akan pulang. Padahal tak demikian, mas Faiz saja tak tahu dimana keberadaan ayah mereka. Sudah terlalu lama menghilang dari hari-hari mereka. Sudah terlalu lama meninggalkan kedua anaknya bagai yatim piatu.
Seharian mas Faiz memikirkan apa yang akan ia katakan pada Khanza jika nanti ia menanyakan kepulangan ayahnya. Karena sungguh ia telah berbohong. Ia tahu Khanza sangat merindukan ayahnya, dan akan melakukan apapun karena ayah. Jadi mas Faiz sering membohonginya agar Khanza mau menuruti kata-katanya, seperti tadi pagi.
Sudah malam. Tak ada pertanyaan apapun dari mulut Khanza perihal kepulangan ayahnya. Mungkin dia lupa, karena memang ia sangat payah dalam urusan mengingat sesuatu.
***
Khanza setengah tersenyum, antara yakin dan tidak. Print. Satu persatu lembaran keluar dari mulut printer. Segera ia tata, dan masukkan ke dalam tas kecilnya.
Dengan keraguan, ia berjalan menuju kantor pos. Ia mencoba mengingat-ingat sebuah alamat penerbit surat kabar nasional. Tapi ia tak tahu mengapa begitu sulit mengingat alamat itu, padahal hanya alamat saja. Ia juga tak membawa pulpen untuk menuliskan alamat itu di selembar kertas.
“dikirim kemana dik?”
“ke alamat penerbit surat kabar nasional pak, tapi saya lupa alamatnya”
“ooo, ” petugas pos itu mengerti dan langsung mencari sesuatu di timbunan kertas samping mejanya.
“ini, silakan adik tulis di amplop”
“terima kasih pak”, Khanza tersenyum, ternyata ia masih diberi kemudahan.
Ia keluar dari kantor pos dengan wajah berser-seri. Tak ada ragu lagi. Karena ragu hanya akan membuat pikirannya tidak tenang dan harapannya hanyut. Ia benar-benar ingin meyakini harapan itu. Ia benar-benar menginginkan the end itu terjadi.
Ia sudah melakukan apa yang bisa ia lakukan. Sebelum semua terlambat dan ia tak bisa melakukan apa-apa. Setidaknya ia sudah berusaha untuk harapan itu, seberapa kecil pun harapan yang ada. Seperti nasehat kakaknya yang ia tiru dari ayahnya semasa mereka kecil. Bahwa Khanza tak boleh menyerah dan menangis.
Bagaimanapun, saat ini ia hanya memiliki harapan. Dan harapan itu tidak akan ia biarkan kabur bersama rasa ragu dan pesimismenya. Tidak boleh.
***
Hari ini sudah seminggu sejak Khanza mengirimkan amplop itu ke penerbit surat kabar. Dan memang benar, pagi itu surat kabar memuat kirimannya.
“Khanza”
“ya mas”
“apa ini........”
“iya mas, itu Khanza yang kirim”, mas Faiz tertegun, tak menyangka adiknya akan berbuat demikian. Karena selama ini mas Faiz mengira Khanza tak  mengerti apa-apa. Menyangka Khanza tak merasakan kegelisahan yang sama sepertinya.
“mas...mas Faiz ndak usah berbohong lagi ya, ndak usah mengkhawatirkan perasaan Khanza dengan berbohong seperti Idul Fitri kemarin”
“Khanza....”, kata mas Faiz lirih sambil memeluk adiknya. Ada perasaan menyesak di dadanya, ketika mengetahui adiknya yang dia kira begitu polos dan tidak mengerti apa-apa ternyata pun menyimpan kegelisahan yang sama, kerinduan akan kehidupan yang selayaknya mereka dapatkan. Tapi  mereka hanya berdua, hidup mereka hanya berdua.
“mas, Khanza tahu kalau ayah ndak akan pulang, tapi Khanza yakin ayah masih hidup disana, dan dia akan pulang jika ia membaca kiriman Khanza di surat kabar itu, ya kan mas?”, mas Faiz hanya terdiam sembari terus memeluk adiknya. Ia merasa lebih lemah dibanding adiknya.
Sedang Khanza sendiripun sedang berusaha tetap meyakini harapannya. Tulisannya sudah terbit di surat kabar, beribu orang akan membacanya. Masa ayahnya tak membaca, kecuali jika ayahnya telah jauh dari negeri ini, atau ayahnya sudah berada di surga bersama ibunya. Ah, tidak. Ayahnya masih hidup dan ayahnya  pasti membaca dan akan pulang menemui kedua anaknya.
***
Khanza terduduk di sudut kamarnya. Lengang. Disudut yang lain setangkai bunga dalam vas berdiri di atas meja kecil dengan keadaan sama layunya dengan wajah Khanza. Kening Khanza mengkerut, tangannya menggenggam sebuah halaman surat kabar. Berulang-ulang ia membaca “Ayah, Pulanglah Ke Rimba Kedua Anakmu”. Bibirnya terus bergetar, mengucapkan nama ayahnya. Di depan pintu kamarnya, mas Faiz berdiri kaku. Lalu perlahan mendekati adiknya.
“ sudah hampir satu bulan mas, kenapa ayah ndak pulang juga?”
Mas Faiz mencoba tersenyum “ bukan ndak pulang sayang, tapi belum”, mas Faiz mengambil kertas surat kabar itu di tangan Khanza, lalu diletakkannya di samping vas bunga. Mas Faiz sesungguhnya benar-benar sadar bahawa mereka berdua telah layu. Tak ada lagi kesanggupan yang kuat untuk terus bersandiwara, terus tersenyum dalam bayangan kesendirian. Ya, mereka hanya berdua, hidup mereka hanya untuk berdua, meskipun sampai sekarang ia masih terus membiarkan Khanza berharap.
“mas.........”, panggil Khanza, mas Faaiz menoleh
“ Khanza takut jika ayah tak juga pulang, nanti Khanza lupa dengan wajah ayah”, lanjutnya sambil terisak
Mas Faiz langsung menghampirinya. Mendekapnya erat. Ada perasaan yang sangat menusuk. Ia tak ingin Khanza serapuh ini, tapi ia pun kini rapuh, sangat rapuh. Ia tak ingin kehilangan adiknya. Ia sangat menyayangi adiknya. Hanya Khanza satu-satunya miliknya yang paling berharga. Hanya Khanza yang ia miliki. Hanya mereka berdua.
“tidak sayang, kamu ndak akan lupa dengan wajah ayah, jika tidak, kamu harus selalu ingat mas Faiz, jadi jika memang kamu lupa, mas Faiz yang akan memberi tahu kamu kalau kita bertemu ayah”, kata mas Faiz terbata.
Ia sungguh tak mampu lagi menahan air matanya. Khanza, adik satu-satunya dan satu-satunya miliknya yang paling berharga sangat berharap akan kedatangan ayahnya. Khanza sungguh merindukan ayahnya. Tetapi mas Faiz tak bisa berbuat apa-apa untuk memenuhi kerinduan adiknya.
Bahkan untuk sekali saja seumur hidup Khanza.

The end

CATATAN DI KAKI HUJAN


Kala terpekurku hanya kau jawab dengan angkuhmu, doa dan pintaku menjadi debu beterbangan. Kapan kau akan mengerti? Sesak batin ini setiap tersadar aku tak mampu mengubah cara pandangmu terhadapku, terhadap perasaanku. Kau hanya menganggapku sebagai pengganggu. Selalu seperti itu.
Ku akui pendirianmu. Tak ada wanita yang mampu mencairkan hatimu dan membuatmu dengan senang hati memberikan tempat di sampingmu. Kau terlalu angkuh dan kaku. Setidaknya itu yang kutangkap dari sikapmu. Atau mungkin sikapmu itu hanya berlaku untukku. Aku tak tau. Meskipun aku sendiri berharap bahwa aku akan menjadi empu hatimu yang pertama.
Argh, sejak kekagumanku yang berlebihan padamu dan rasa aneh ini mulai menjangkitiku, aku terus berkhayal. Aku jadi membayangkan jika suatu saat kau datang dan memberiku setangkai bunga sebagai perlambang cinta. Yah meski sebenarnya aku tak suka bunga, tapi itu lebih berharga daripada aku terus menerka-nerka apa yang ada di dalam hatimu.
Sejenak aku tersenyum dalam lamunanku. Lantas ketika aku sadar, lenyap.
Realistis. Nyatanya aku tak istimewa. Aku hanya satu dari sekian banyak orang yang kau kenal. Entahlah, aku menikmatinya saja. Bahkan ketika aku sendiri sadar kekagumanku telah melampaui batas logika. Mungkin karena ada sesuatu di balik rupamu yang biasa, dan sesuatu itu tak pernah hilang bahkan ketika kau hanya diam termenung tanpa ekspresi. Kau terlihat indah. Indah yang tak biasa dimiliki oleh kebanyakan laki-laki.
Gombal! Mungkin itu yang akan kau katakan jika aku lontarkan ini padamu. Kau akan merasa risih karena aku adalah seorang wanita yang agresif menyatakan perasaannya. Ini bagian dari kejujuran, kau tahu kan?
Kapan kau akan memberiku kesempatan? Mustahil jika kau menyuruhku untuk berhenti. Aku telah terperangkap dalam kubangan ini. Meski sadar tak sepenuhnya. Aku masih bisa melirik lali-laki lain yang terlihat lebih tampan. Dan hanya sebentar. Setelah itu aku kembali berlama-lama dengan perasaanku. Tentu saja karena aku tak pernah mengukurmu dari ketampanan. Kau tidak tampan. Hehehe
“kenapa kau menginginkanku?”
“karna aku mencintaimu”, kau diam. Kupikir lagi apa yang baru saja ku katakan.  Apa aku salah bicara? Atau aku terlalu jujur mengatakannya di depanmu? Kau diam lebih lama.
“kau terlalu berani mengatakan itu”
“maksudmu lancang?”
“terlalu terburu-buru. Kau belum benar-benar memikirkannya”
“aku sudah memikirkannya, matang-matang, bahkan tak bisa lagi dihitung berapa kali”, kau diam. Lagi-lagi diam. Aku menunggumu mengeluarkan kata yang akan mempetegas  jawabanmu. Tak ada. Tak bersuara.
Ku amati wajahmu. Ada beberapa helai rambut di dagumu. Aku bisa menghitungnya. Kau terlihat lucu. Hehehe. Aku tertawa dalam hati.
“jangan nikmati panah setan”, katamu tiba-tiba. Aku terhenyak. Lagi-lagi hanya dalam bayangan. Tak ada percakapan yang benar-benar nyata.  Kenyataannya aku tak cukup kebal untuk mengatakan cinta padamu. Aku tak siap jika seketika itu hatiku remuk oleh penolakan.
Aku pernah sekali dua bercakap denganmu.  Aku selalu mengingat percakapan kita yang terlalu singkat. Aku suka melihat gerak bibirmu saat kau bicara, dan gigimu. Temanku pernah bilang gigi kita mirip. Sedikit mancung kedalam. Aku tersenyum mengingat itu. Aku tak pernah melihat matamu. Kau selalu memalingkannya dariku. Aku paham. Memang begitulah caramu dan teman-teman seideologimu itu berinteraksi dengan wanita. Ya, aku mengingat semua tentangmu. Dan aku tak pernah menyesali percakapan yang terlalu singkat itu.
Hei! Untuk apa kau memikirkannya? Ia tak pernah mempedulikanmu! Lupakan! bodoh! kerap bisikan itu menghampiri telingaku. Logikanya memang begitu. Aku akan melupakanmu jika aku mengingat keangkuhanmu. Tapi bukankah dalam cerita ini aku lepas dari logika. Dan bukankah memang begitu tabiat laki-laki. Wanita hanya sepertiga bagian dari hidupnya. Sedangkan wanita menganggap laki-laki adalah seluruh hidupnya. Argh...semua jadi semakin rumit kurasa.
Ingatkah kau saat senja sebelum peristiwa pahit itu terjadi. Ketika itu kita bertemu di lorong sekolah yang panjang. Kau bersama teman-temanmu. Aku bersama kawan-kawanku. Kau tersenyum. Ku balas dengan senyum. Lalu salah satu temanku mencubit lenganku. Mereka meledekku saat kau sudah berlalu di belakangku. Ya, aku memang terlalu ekstrovert. Aku tak bisa menyembunyikan apapun dari mereka. Termasuk perasaanku padamu, meskipun mereka semua tertawa saat pertama kali mendengar bahwa aku menyukaimu. “dia???”, Tanya mereka sontak dengan tanda tanya panjang di belakangnya. Hahahahaha…., mereka tertawa. “sadarlah,kau hanya akan jadi setan pengganggu buat dia”.
Aku tak mundur.
Senja berikutnya hujan lebat membuatku tertahan di sekolah setelah les yang begitu menyebalkan. Bagaimana tidak, aku jadi harus pulang sore setiap harinya dan berkejar-kejaran dengan hujan seperti ini.
Sesalku hilang tatkala aku melihatmu di seberang tubuhku berdiri. Meski ditutupi oleh garis- garis hujan yang jatuh dengan rapi, tapi aku bisa melihatmu dengan jelas. Aku merasakan hujan yang tadinya meraung-raung berubah melompat-lompat seperti katak. Waktu seolah melambat dan memberi kesempatan untukku melihatmu lebih lama. Kau menunggu hujan, sama sepertiku.
Senja ketiga kita bersama di sebuah forum diskusi remaja bersama ustad ternama. Tentu saja atas undanganmu. Aku merasa bersamamu meski kita berbeda kubu. Dan meski aku bingung mengapa kau memintaku datang di antara orang-orang yang memiliki ideologi “aneh” menurutku. Bagaimana tidak, mereka semua memakai serba hitam dengan jilbab besar yang panjangnya sampai atas lutut. Setahuku, islam hanya mewajibkan mengulur jilbab menutupi dada. Pemborosan saja.
Si ustad menjelaskan panjang lebar tantang remaja dan cinta versi mereka.
“bagaimana jika seorang wanita menyukai laki-laki, sedangkan laki-laki itu tidak berniat sama sekali untuk menerimanya, tapi takut untuk menolak, khawatir kalau penolakan itu menyebabkan terputusnya silaturahmi?”, tanyamu tiba-tiba. Aku terhenyak. Rasa nyeri tiba-tiba menjangkiti dadaku. Tersindir. Mungkinkah pertanyaan itu adalah jawaban dari pertanyaanku? Sesaat hening menyelimuti ruangan  meski ada  suara ngikik beberapa perempuan. Mungkin mereka merasa geli mendengar pertanyaanmu. Tak mengangka pertanyaan itu muncul dari mulut seorang sepertimu. Kau telah terlibat dalam noktah merah jambu.
“ehhm..”, suara dengan nada bass sang ustad berdehem mengawali detik-detik jawabannya untukmu. Bukan. Lebih tepatnya untukku.
“dinding hati wanita itu sangat tipis. Terketuk sedikit saja bisa terbuka, apalagi kau pukul, pasti langsung rubuh. Hati wanita itu mudah terluka, tapi sulit diobati. Jika hati seorang wanita terluka karena kau tolak cintanya, jangan salahkan dia jika dia menjauhimu. Karena tetap di dekatmu hanya akan menambah lukanya semakin parah, atau malah tak menemukan obatnya sama sekali. Jangan hubungkan cinta dengan silaturahmi. Karena hakikat dan sebab keduanya berbeda”, kau mengangguk tanda mengerti. Aku yang jadi tak mengerti. Aku tak paham dengan bahasa sublim orang-orang “aneh” ini. Atau otakku yang terlalu dangkal. Aku bingung. Entahlah, firasatku mengatakan ini buruk. Sepertinya aku harus menunggu jawaban lugas yang senyatanya darimu.
Acara selesai. Aku melihatmu di luar bersama segerombolan perserta yang lain. Kau tersenyum melihatku. Pertanda baik. Ah tidak. Kau tak mudah ditebak.
“bagaimana?”
“apa?”, aku bertanya, kau jawab tanya. Dasar laki-laki. Pura-pura tak mengerti. Padahal tak kurang jelas aku bertanya.
“surat itu”
“Surat?”
“kau lupa? Ya sudah akan kutulis lagi untukmu”
Maaf jika aku lancang menulis surat ini padamu. Kurasa aku tak perlu lagi menjelaskan panjang lebar tentang maksudku karena ku yakin kau sudah paham. Aku tak berniat memaksamu sama sekali untuk menuruti permintaanku. Ini hanya karena aku tak sanggup lagi menahan debam-debam yang memukul-mukul dadaku. Aku hanya ingin kau memberiku ketegasan. Jawaban yang benar-benar tegas dari mulutmu. Agar aku dapat menentukan langkahku selanjutnya. Jangan menyuruhku menyimpulkan sendiri. Aku tak pandai membeca sikapmu. Aku tak ingin salah persepsi. Jangan membuatku bertanya-tanya dan menjadikan hatiku terkatung-katung. Sungguh aku tak memaksa. Aku akan sangat bahagia jika kau memintaku tinggal. Tapi aku juga akan pergi jika kau menyuruhku pergi.
“sudah kau baca kan, sekarang bagaimana?”, kau menghela napas. Aku bisa mendengar gerak udara keluar dari hidungmu.
“sudah kubilang jangan terburu-buru”
“teburu-buru? Atau menunda-nunda??”, kau terperangah. Kurasa kata-kataku telah menyinggung titik lemah hatimu. Aku bisa melihat dari raut wajahmu yang berubah seketika. Kau sedang berintrospeksi, pikirku.
 Hujan bergelantung hampir jatuh. Kau pamit. Dan tak kujumpai lagi untuk waktu yang lama. Bahkan jejak kakimu pun rasanya tak ada.
Yang ku sadari, senja mengguratkan kata  the end  pada ketekunanku untuk meluluhkanmu. Pada kisah yang belum sempat kuawali. Kau menghindar dariku bak bocah yang berlari kala bertemu dengan  seseorang yang ditakuti.
Aku menyerah.
Aku telah menyimpan banyak kegelisahan dan gagal menjumpai katup pembukanya. Maka diammu telah cukup untuk ku mengintip jendela hatimu. Bahwa tak ada bayanganku disana.
Akhir yang sungguh tak sempurna.

Senin, 21 November 2011

AIR MATA SENJA

Seorang perempuan muda berjalan di trotoar jalan menuju sebuah Universitas.  Terlihat lesu,dengan wajah yang menunduk. Jilbabnya terulur menjuntai sampai di atas lutut. Sesekali tersenyum saat terdengar sapa dari orang yang ikut berlalu lalang,lalu kembali menunduk diam.

Perempuan itu bernama Senja. Mahasiswi semerter akhir Universitas ini.

Ia menuju masjid tempat ia biasa berdiam. Tak banyak cakap,ia lalu saja mengambil air wudhu, memakai mukena ungunya lantas kembali berdiam. Padahal pagi masih begitu sejuk untuk ia termenung dan menangis. Ya, pasti ia akan menangis lagi.

Terduduk tenang namun gelisah. Air matanya mulai menitik melalui mata yang terpejam. Menghayati tiap sayatan luka di hatinya. Ia begitu terluka. Ia mengingat semua kejadian yang tak terduga, yang melibas ketabahannya dan membuatnya terasa munafik untuk tidak merasakan sakit.

***

“bagaimana ukhti?”
“saya berserah pada Allah, karena Dia yang lebih mengerti apa yang saya butuhkan. Tapi biarkan saya istikharoh dulu akh”
“baiklah ukh” 

Senja tak bisa memungkiri hatinya berbunga saat itu. Disembunyikanpun tak bisa, diletakkannya ponselnya di dada, senyumnya mengembang di wajah ayunya. Bagaimana tidak, seorang laki-laki yang sejak lama menawan hatinya telah menawarkan diri menjadi suaminya. Yang biasa hanya bisa ia dengar suaranya saat suro’ di organisasi, mungkin sebentar lagi akan menjadi belahan jiwanya.

Wajahnya begitu berseri. 

“saya sudah istikharoh akh”
“lalu bagaimana jawaban ukhti?” 
“insya Allah akh” 

Tersenyum malu. Gejolak cinta semakin membuncah dihatinya. Betapa ia semakin tak dapat menyembunyikan kebahagiannya.

“ukh, tolong saya minta ukuran jari anti untuk cincin”
“iya akh, besok saya titipkan”
“ukhti ingin baju walimahan yang seperti apa?”
“yang sederhana saja akh, krem atau coklat”
“^_^”
“kenapa tersenyum akh?”
“pilihan ukhti bagus”

Langit terasa sangat cerah, udara begitu sejuk mengibas relung hatinya. Harapannya semakin merekah. Dan seperti apa yang dilakukan gadis lain yang sedang berbahagia, ia mulai menata diri, menata hati, mempercantik diri dan hati. Ya, senja mulai belajar berhias. Senja tak ingin suaminya nanti kecewa sedikitpun. Dan terlihat paras ayunya semakin ayu, semburat jingga pipinya merona seperti senja, seperti namanya.

“kamu benar-benar yakin nduk?”
“insya Allah umi, senja sudah menanti, jadi bukankah ini adalah jawaban dari Allah atas penantian itu umi?” “iya nduk, semoga...” ibunya termenung.

Firasat. Ada ganjalan yang menyesak terselip ketika melihat gadisnya begitu larut dalam harapan. Tapi senja terlalu bahagia untuk mengerti bahasa tubuh ibunya. Ia masih sangat bahagia. Sangat bahagia.

***

Senja masih terduduk di tempatnya, butir doanya mengalir lirih beriringan dengan air matanya. Meresapi setiap ingatan lama saat ia hanya bisa mendengar suara suaminya di organisasi. Di masjid yang sama, membayangkan ia sedang berdebat tentang suatu permasalahan, membayangkan kumandang azan dari mulutnya. Argh...sesak.

“Istighfar ukh” seorang gadis menyentuh pundak senja dengan lembut. Senja mengangkat wajahnya, tersenyum pada sahabatnya. Tapi tidak dengan hatinya. Hatinya masih sedih meratap pada takdir buruk itu.
“saya sudah mendapatkan yang terbaik ukh, saya bersyukur untuk itu semua, hanya saja ada sesal yang masih menyesak di hati saya ukh” 
“saya mengerti ukh, sekarang sandarkan semuanya pada Allah, hanya Dia yang mampu menguatkan ukhti”

Senja tersenyum, lantas ambruk memeluk sahabatnya. Ia tak pernah selemah ini. Ia wanita yang tegar. Tapi entah, semua hilang begitu saja. Tak ada sisa kekuatan dan ketabahan yang ada. Semua menguap bersama air matanya tiap kali ia tersedu mengingat semua kenangan dan cita-cita manis yang tiba-tiba menjadi ingatan yang begitu buruk dan menyakitkan. 

Sahabatnya mengusap air mata senja, ia paham benar apa yang senja rasakan. Ia baru saja bahagia sekaligus terluka. Luka yang sangat dalam, dan menghantam ketabahan seorang senja.

“sudahkan ukti melihat makam almarhum?”, senja menggeleng 
“ukhti pingsan waktu itu,terlalu lemah untuk ikut ke pemakaman,sekarang mungkin sudah waktunya ukhti ziarah, doakan suamimu disana” 
the end   

tak ada yang dapat menebak ketika takdir menjemput. Bahkan sebelum seteguk kenikmatanpun dirasakan, sebelum segenggam baktipun dihanturkan. Tak ada yang tahu bahwa maut telah begitu dekat